Peristiwa
yang mengharu biru ini diawali ketika aku tak dapat melihat indahnya dunia. Aku
buta sejak aku dan keluargaku mengalami sebuah kecelakaan. Untunglah kecelakaan
itu tidak menelan korban jiwa, akan tetapi aku harus rela kehilangan indra
pengelihatanku.
Tentu
saja akibat kejadian itu, aku shock berat. Dan sejak saat itu aku lebih suka
menyendiri dam berdiam diri di rumah. Akan tetapi, entah mengapa sore itu aku
ingin sekali berjalan-jalan di taman dekat komplek rumah. Aku diantar oleh ibu
ke taman dan aku meminta ibu untuk meninggalkanku sendirian. Aku duduk di kursi
sambil menikmati udara di sore hari.
Tiba-tiba
ada suara anak perempuan meminta tolong dan semakin lama suara itu kian semakin
mendekat.
“Aku mohon tolong aku,ibuku kejang-kejang!” pinta
gadis itu.
“Ini handphone,segera hubungi rumah sakit dan
minta ambulan untuk menjemputnya!” ucapku sambil memberikan handphone padanya.
Gadis itu segera menghubungi rumah sakit, lima
menit kemudian ambulancepun datang. Ibu gadis itu segera dibawa ke rumah sakit
dan aku ikut mengantarkannya.
Kami
menunggu di ruang tunggu dan di ruang tunggu kami berkenalan. Rupanya nama
gadis itu adalah Fiola, ibunya sakit keras sejak dua bulan yang lalu. Akibat
keadaan ekonomi Fiola tak dapat membawa ibunya ke dokter. Ayahnya hanyalah
seorang pemulung, bahkan untuk makan sehari-hari saja mereka harus berbagi satu
nasi bungkus untuk tiga orang. Sungguh sedih aku mendengarkannya.
Fiola
banyak mengucapkan terimakasih padaku. “Lala terimakasih banyak atas semua
bantuanmu, aku tak tau bagaimana cara membalas kebaikanmu ini!” (sambil
memelukku)
“Sudahlah, jangan berterimakasih padaku. Aku
hanyalah seorang perantara saja, berterimakasihlah kepada Allah karena Dialah
yang mengatur semua ini.” Nasihatku.
Tiga
jam aku dan Fiola menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruang UGD.
“Ibu kalian telah melewati masa kritisnya ,
untunglah kalian tepat waktu membawanya. Jika terlambat satu menit saja, maka
akan berakibat fatal, ini obatnya silahkan ditebus diapotek!”
Ucap dokter itu sambil memberikan resep dan
kemudian segera berlalu.
“Terimakasih dokter!” ucapku dan Fiola serentak.
“Biaya rumah sakit dan obat ini pasti sangat mahal, bagaimana caraku
membayarnya?” kata Fiola dengan suara pelan.
“Sudahlah kamu tidak usah memikirkannya biar aku
yang tanggung semua biayanya.”
Aku segera pergi kekasir dan mengurus
administrasinya. Fiola berusaha menahan tapi usahanya tak berhasil.
Tiada terduga rupanya aku dan Fiola telah menjalin
persahabatan selama dua tahun lebih .
Kami begitu dekat bahkan aku sudah menganggap
Fiola sebagai saudaraku sendiri.
Fiola selalu menemani hari-hariku yg sepi dan
penuh kegelapan.
Disore hari, seperti biasa Fiola selalu bermain ke
rumahku. Kita ngobrol-ngobrol dan sering curhat.
“La, apakah kamu tidak bosan hidup dalam
kegelapan?” tanya Fiola
“Tentu saja aku sangat bosan hidup dalam kegelapan,
aku ingin sekali mengakhiri semua ini, namun apa yang bisa ku perbuat? Aku
hanya bisa menunggu seseorang yang rela mendonorkan kornea matanya untukku! dan
aku tau, kemungkinan terjadinya hanya 0,1%.”ungkapku dengan mata berkaca-kaca.
“Sampai kapan kau akan selalu menunggu?”
“Entahlah,mungkin sampai aku mati.”
“Apa yang akan kau lakukan pertama kalinya apabila
kamu dapat melihat kembali?” Ucap Fiola
Pertanyaan Fiola tersebut membuatku terkejut.
“Hah….???? Emmm… Pertama-tama orang yang ingin aku
lihat pertama kalinya adalah kamu Fiola.
Dan hal yang ingin aku lakukan pertama kalinya adalah pergi ke taman
bersamamu.”
Keesokan
harinya aku merasa begitu aneh, karena seharian ini Fiola tidak ada main ke
rumah. Lalu tiba-tiba ayah memberitahukan padaku bahwa ada seorang wanita yang
ingin mendonorkan matanya. Tapi orang itu tak ingin di ketahui identitasnya.
Satu
minggu lagi aku akan menjalani operasi, tetapi setelah aku menunggu selama
seminggu Fiola pun tak kunjung datang untuk main kerumahku.
Saat yang paling aku tunggu-tunggupun kini tiba.
Hari ini aku akan menjalankan operasi, aku ingin Fiola ada di sampingku, tapi
sudah satu minggu ini Fiola menghilang.
Tujuh jam
operasi ini berjalan lancar, dan tiba saatnya dokter membuka secara perlahan
perban yang menghalangi mataku. Secara perlahan tapi pasti, ku buka mataku
pelan-pelan dan ahirnya aku dapat melihat dunia yang begitu indah, tapi aku tak
melihat Fiola, aku hanya melihat ayah dan ibu saja.
Saat aku
bertanya keberadaan Fiola pada ayah dan ibu, mereka hanya terdiam. Tiba –tiba
ada sepasang suami isteri dan mereka memberikuv sebuah surat
“Ini nak surat dari Fiola.” Lalu surat itupun ku
buka.
Dear Lala,
Hai sobat, sudahkah kau melihat
keindahan dunia? Sudahkah kau membuang rasa bosanmu terhadap kegelapan? Maafkan
aku jika aku tak dapat lagi menemani hari-harimu. Dan maafkan aku karena aku
tak bisa menemanimu pergi ke taman. Kini ku harap kamu tak mencariku atau
menungguku. Karena saat ini aku ada di dunia yang berbeda, aku berada di dunia
keabadian. Lala jangan pernah engkau menangisi kepergianku. Sesungguhnya sudah
lama aku megidap penyakit kanker otak, aku tak ingin membuat orang
dsekelilingku merasa khawatir makanya aku menyembunyikan tentang penyakitku
ini. Tapi kini telah tiba saatnya aku menghadap sang penciptaku. Aku ingin
selalu ada di hatimu, mungkin inilah yang bisa aku lakukan untuk membalas semua
kebaikanmu padaku dan keluargaku.
Begitulah
isi surat Fiola dan aku berusaha untuk menahan air mataku. Tapi aku tak kuasa
membendung perasaan ini dan akupun menangis di pelukan ibu.
Setelah setahun kepergian Fiola, sedikit demi
sedikit aku sudah bisa merelakan Fiola pergi. Setiap satu minggu sekali aku
selalu mengunjungi makam Fiola dan mengirimkan doa-doa agar Fiola tenang di alam
sana.
“Fiola aku akan menjaga mata ini baik-baik”,
ucapku sambil mengusap-usap nisan Fiola.
By Febry
Wulandari








